Artikel

Sabtu, Jam: 22:37:31 WIB By admin Dibaca 1

RSUP Dr. Mohammad Hoesin, mulai isi artikel disini..



 



 Dr dr H Zulkhair Ali SpPD K-GH FINASIM, Leader Terbaik RSMH Palembang



Perpaduan Ilmu dan Seni



Dokter dengan segudang prestasi pantas disematkan kepada Dr dr H Zulkhair Ali SpPD K-GH FINASIM. Ia baru saja dinobatkan sebagai Leader Terbaik RSMH 2018. Pria berkacamata ini juga pernah mendapat penghargaan sebagai Insan Pelestari Seni Budaya Sumsel



Pria yang ramah ini memiliki beragam kesibukan. Seperti mengajar di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sriwijaya (Unsri), mengurusi pasien, Ketua Komite Medik di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang, aktif di kesenian dulmuluk. Bahkan pernah menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Sumatera Sela­tan (DKSS



dr Zulkhair Ali baru saja menerima penghargaan dari Direktur RSMH sebagai Leader Teladan dan Terbaik 2018. “Selain Dokter Teladan, sekarang sudah ada Pemimpin Teladan. Dak tahu, saya yang terpilih. Mungkin saya sudah tua, jadi kasihan,” katanya bercanda.



 



Saat ini, ungkap dia, dirinya menjabat sebagai ketua Ko­mite Medik RSMH Palembang. Komite ini bertugas menge- lola dokter. Mulai dari dokter masuk, mengawasi, etik dok­ter, kompetensi, hingga pen­siun. “Tugas utamanya Kredin- sial, mutu profesi, etika,” ucapnya.



 



Rumah Dinasnya Dua Kali Dimasuki Ular



 



Bapak tiga anak ini juga menceritakan panjang lebar tentang suka dukanya sebagai dokter. “Enaknya ketika meli­hat pasien sembuh. Mereka sehat. Sebagai dokter juga ikut bahagia,” tuturnya.



 



Meskipun kadang pasien tidak tertolong, ungkap dia, tetapi dirinya telah berusaha semaksimal mungkin, sehing­ga ada rasa lega. Dirinya juga merasa kalau ajal itu bukanlah dokter yang mengatur. “Ma­kanya dokter tidak bisa men­janjikan kesembuhan terhadap pasien. Hanya saja bisa beru­saha dan bekerja secara pro­fesional,” lanjutnya.



Dukanya, lanjut dr Zulkhair Ali, profesi dokter itu waktunya terbatas. Harus siap jaga. Ha­rus siap dihubungi 24 jam. “Kadang di saat kita tidak siap untuk melayani pasien. De- ngan tugas harus siap. Harus tetap dihadapi. Tapi tidak ma­salah,” kata suami dari dr Yu­lia Darlina ini.



 



Pria kelahiran Riau, 21 April 1961 ini merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya tama­tan 1987. Sedangkan untuk spesialis penyakit dalam di Fakultas Kedokteran Univer­sitas Sriwijaya lulus 1996. Untuk Konsultan Ginjal Hi­pertensi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penya- kit Dalam Indonesia pada 1984. Sementara gelar doktor dari Universitas Airlangga (Unair) pada 1988.



 



“Pertama kali tamat dokter, saya bertugas di daerah Tiga Muara. Sedangkan di untuk puskesmas bertugas di Mua­ra Beliti, Kabupaten Musi Rawas (Mura); pindah ke Pus­kesmas Muara Rupit, Kabu­paten Muratara, kemudian pindah lagi ke Puskesmas Muara Batun. Terakhir ditam­bah Puskesmas Sirah Pulau Padang, Kabupaten OKI,” te­rangnya.



Dokter Zulkhair yang juga aktif di kesenian tradisional dulmuluk ini menceritakan, saat bertugas di Puskesmas Muara Batun, Kabupaten Ba­nyuasin, rumah dinas yang ditempatinya pernah dua ka­li dimasuki ular. Karena bangu­nannya memang agak kurang layak huni, bahkan dokter sebelumnya tidak ada yang menempati rumah dinas itu. “Tapi saya berprinsip, bagaimanapun kondisinya, ketika ditugaskan harus terima. Pekerjaan itu harus dinikmati dan dilak- sanakan dengan maksimal,” tandasnya.



 



Pria yang ramah dan akrab dengan awak media ini meng­aku, sebelumnya pernah di­tugaskan di RS Muhammad Yunus Bengkulu. Beragam jabatan juga telah diemban oleh dr Zulkhair Ali. Karena pria murah senyum ini senang berorganisasi. Seperti pernah menjadi ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang OKI, Ketua IDI Cabang Bengkulu, dan saat ini menjabat Ketua IDI Kota Palembang.



 



“Pernah juga menjabat ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam In­donesia Sumsel selama dua periode,” lanjutnya. Yang paling menarik ada­lah Ternyata ia juga menyu­kai seni sastra, puisi, teater, dan dulmuluk. Bahkan dr Zulkhair pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Su­matera Selatan (DKSS) perio- de 2009-2014.



 



“Ada pepatah mengatakan dokter is art. Jadi profesi dok­ter itu benar-benar paduan antara ilmu dan seni. Ilmu untuk mempelajari dan seni untuk mengobati. Ada seni berkomunikasi, seni pende­katan, seni menjelaskan den­gan pasien. Makanya dokter hebat dan pinter belum tentu disenangi oleh pasien,” pa­parnya.



Kok bisa menjadi ketua DKSS? “Sebenarnya saya sudah berurusan dengan seni sejak masih duduk di bangku seko­lah dasar (SD). Selalu bergaul denga para seniman. Sejak 1982, saya mengaktifkan seni dulmuluk.



 



Saat kuliah di FK Unsri memilik


Share