Artikel

Jumat, Jam: 15:46:48 WIB By admin Dibaca 1

RSUP Dr. Mohammad Hoesin, mulai isi artikel disini..



KANKER PAYUDARA



Dr. Nur Qodir ( Spesialis Bedah Onkologi RSMH )



 



Pada Peringatan hari Kanker Sedunia, RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang bekerjasama dengan Stasiun TVRI Palembang mengadakan Talkshow Kesehatan pada tanggal 05 Februari 2019, dengan narasumber Dr. Nur Qodir, Sp.B(K).Onk mengangkat tema “Kanker Payudara”



 



Pada acara tersebut, dr. Nur Qodir menjelaskan bahwa Kanker payudara adalah keganasan yang berasal dari sel kelenjar, saluran kelenjar, dan jaringan penunjang payudara. Kondisi sel kelenjar payudara mengalami mutasi dimana sel kehilangan pengendalian dan mekanisme normal pertumbuhan sehingga mengalami pertumbuhan yang abnormal, cepat, dan tidak terkendali, baik pertumbuhannya berlangsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau bermetastasis ke berbagai organ, seperti paru-paru, tulang, dan hati. Sel kanker kehilangan kemampuan apoptosis yang menyebabkan sel terus tumbuh dan bersifat invasif sehingga sel normal tubuh dapat terdesak dan rusak.



Hampir semua jenis kanker memiliki penyebab spesifik, tetapi pada kasus kanker payudara belum ada penyebab yang pasti. Terdapat beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab kanker payudara. Faktor genetik, lingkungan, dan hormonal kemungkinan turut berperan dalam kanker payudara. Wanita yang rentan terhadap faktor-faktor tersebut bisa jadi memiliki risiko yang tinggi



 



 



Faktor Risiko Kanker Payudara



Faktor-faktor risiko yang dapat memengaruhi kejadian kanker payudara antara lain:



1.     Usia



Risiko kanker payudara tergantung dari bertambahnya usia.  Pada usia 30-39 tahun, insiden kanker payudara mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0,04% per tahun dan pada usia diatas 80 tahun, terdapat peningkatan drastis melebihi 10%.



 



2.    Genetik dan Familial



Mutasi yang paling banyak terjadi pada kanker payudara adalah pada gen BRCA1 dan BRCA2.Wanita yang memiliki mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 mempunyai peluang untuk berkembang menjadi kanker payudara dan kanker ovarium selama hidupnya.



Wanita dengan riwayat keluarga tingkat pertama (ibu dan saudara kandung) yang menderita kanker payudara mempunyai risiko 4-6 kali dibanding wanita yang tidak memiliki riwayat keluarga menderita kanker payudara. Usia saat terkena juga memengaruhi faktor risiko, pasien dengan ibu didiagnosis kanker payudara saat usia kurang dari 60 tahun meningkatkan risiko 2 kali. Pasien dengan keluarga tingkat pertama premenopause menderita kanker payudara bilateral mempunyai risiko 9 kali. Pasien dengan keluarga tingkat pertama postmenopause menderita kanker payudara bilateral mempunyai risiko 4-5,4 kali.



 



3.    Reproduksi dan Hormonal



Dilihat dari aspek hormonal, kejadian kanker payudara tidak terlepas dari pengaruh paparan hormon estrogen terhadap sel-sel payudara.



a.    Paritas



Tingginya paritas berkaitan dengan penurunan risiko terjadinya kanker payudara.Dengan terjadinya kehamilan beberapa kali, akan memberikan payudara selang waktu terhadap paparan estrogen yang dapat menurunkan risiko terjadinya kanker payudara.Risiko terjadinya kanker payudara akan meningkat sebesar 22% pada wanita yang melahirkan anak pertama pada usia setelah 35 tahun



Wanita yang melahirkan anak pertama sebelum usia 20 tahun memiliki risiko kejadian kanker payudara yang menurun sebesar 50%.



b.    Tidak menyusui



Adanya efek yang bersifat protektif dari menyusui terhadap kanker payudara. Semakin lama waktu menyusui maka semakin besar pula efek proteksi. Penurunan risiko terjadinya kanker payudara akibat menyusui sebesar 4,3-4,5% untuk setiap 12 bulan menyusui.



c.    Menarche dini dan menopause terlambat



Menarche yang dimulai kurang dari 12 tahun mempunyai risiko 1,7-3,4 kali lebih tinggi daripada wanita dengan menarche pada usia lebih dari 12 tahun .



Wanita yang mengalami menopause terlambat yaitu di atas usia 55 tahun memiliki risiko 1,5 kali lebih besar terkena kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang menopause sebelum usia 55 tahun.



d.    Pemakaian hormon



Pemakaian kontrasepsi oral dan hormone replacement therapy/menopausal hormone therapy dalam waktu lebih dari 8 sampai 10 tahun dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara. Kontrasepsi oral dan hormone replacement therapy mengandung hormon estrogen dan progesteron yang dapat mengatur regulasi seksual bulanan.



 



4.    Gaya hidup



Obesitas mempengaruhi kejadian kanker payudara pada wanita postmenopause. Risiko ini disebabkan karena pada postmenopause, produksi hormon estrogen di ovarium terhenti dan digantikan di jaringan adiposa sehingga dengan terjadinya obesitas akan meningkatkan produksi estrogen yang dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya kanker payudara



 



5.    Radiasi pengion pada saat pertumbuhan payudara



Penelitian yang dilakukan oleh Mcgregor dkk. tahun 1977 yang meneliti wanita yang terpapar bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada perang dunia II, menunjukkan bahwa wanita usia 10 sampai 19 tahun memiliki risiko absolut tertinggi kanker payudara sebesar 4 kali, dan wanita usia 35 sampai 49 tahun risiko sebesar 0,9 kali.



 



6.    Riwayat kelainan payudara



Wanita yang sebelumnya telah mengidap kanker pada salah satu payudaranya berisiko 5    kali lebih tinggi menderita kanker payudara pada sisi kontralateralnya.



 



Penegakan Diagnosis dengan 3 cara yaitu :



 



1.Pemeriksaan Klinis



1.1 Anamnesis



Keluhan utama penderita yang dapat ditanyakan pada penderita dapat berupa apakah ditemukan benjolan padat, rasa nyeri, seberapa cepat kecepatan tumor tumbuh, ditemukannya nipple discharge (Keluar cairan dari Puting), retraksi papilla mammae, krusta atau eksim yang tidak sembuh pada areola atau papilla mammae, terdapat kelainan kulit berupaskin dimpling (lesung kulit), ulceration (koreng), venous ectasia, peau d’orange(gambaran kulit jeruk), satelitte nodules, dan adanya benjolan di aksila atau leher/ supraklavikula.



Ditanyakan yaitu keluhan di tempat lain yang berhubungan dengan metastasis yaitu nyeri tulang yang terus menerus dan semakin berat, rasa sakit dan penuh di ulu hati, batuk kronis dan sesak napas, sakit kepala hebat, muntah, dan gangguan sensorium.



Ditanyakan juga pengaruh siklus menstruasi terhadap keluhan tumor dan perubahan ukuran tumor, kawin atau tidak, jumlah anak, menyusui atau tidak, riwayat penyakit kanker dalam keluarga, obat-obatan yang pernah dipakai terutama yang bersifat hormonal, apakah pernah operasi payudara dan obstetriginekologi



 



2. Pemeriksaan Fisik



   I.        Status generalis dihubungkan dengan performance status: Karnofsky score, WHO/ECOG    score



    II.        Status lokalis



a.    Pemeriksaan payudara kanan dan kiri (ipsilateral dan kontralateral)



b.    Massa tumor : Lokasi (kuadran), ukuran (diameter terpanjang), Konsistensi, permukaan tumor, bentuk dan batas tumor, jumlah tumor (yang palpable), Fiksasi tumor pada kulit, musculus pektoralis, dinding dada.



c.    Perubahan kulitKemerahan, edematous, dimpling, ulcus, satellite nodulesgambaran kulit jeruk peau d’orange.



d.    Papilla mamae : Retraksi, Erosi, Krusta, Eksim, Discharge.



e.    KGB regional (Axilla, infra & Supra clavicular) : palpable, ukuran, konsistensi, konglomerasi, fiksasi satu dengan yang lain atau dengan jaringan sekitar. Pemeriksaan organ yang menjadi tempat dan dicurigai terjadi metastasis, tergantung lokasi organ (paru, hati, tulang, otak)



 



3. Pemeriksaan Radio Diagnostik



1. Diharuskan (recommended)



§ USG sebagai metode untuk membedakan massa kistik dengan solid dan sebagai pedoman untuk melakukan biopsi. Mamografi memegang peranan mayor dalam deteksi dini kanker payudara, sekitar 75% kanker terdeteksi paling tidak 1 tahun sebelum ada gejala atau tanda. Akurasi mamografi untuk memprediksi suatu keganasan adalah 70-80%. Namun kurang akurat pada pasien usia muda (kurang dari 30 tahun)



§ Foto toraks dan USG abdomen dilakukan untuk melihat metastasis ke paru, pleura, mediastinum, dan organ visceral terutama hepar.



2.  Opsional (atas indikasi)



§  Bone scanningBone survey bila CT-Scan, MRI (untuk mengevaluasi volume tumor)



 



4. Pemeriksaan Biopsi Jarum Halus (Fine Needle Aspiration Biopsy(FNAB)



Merupakan proses diagnosis awal, untuk mengevaluasi massa di payudara. Pemeriksaan ini sangat berguna terutama untuk evaluasi lesi kistik. Dilakukan pada lesi tumor yang secara klinis dan radiologis dicurigai ganas. Di Indonesia, akurasi FNAB sudah semakin baik (>90%) sehingga dapat direkomendasikan penggunaan FNAB.



 



5. Pemeriksaan Histopatologi (Gold Standard Diagnostic)



    Stereotactic biopsy dengan bantuan USG atau mammogram pada lesi nonpalpabel,Core Needle Biopsy (micro specimen),Vacuum Assisted Biopsy (mammotome), Biopsi insisional untuk tumor operable dengan diameter > 3 cm sebelum operasi definitif atau inoperabel untuk diagnosis faktor prediktor dan prognostic, Biopsi eksisionalspesimen mastektomi disertai pemeriksaan KGB regional, Pemeriksaan imunohistokimia (IHC) terhadap ER, PR, Her-2/Neu (recommended), Cathepsin-D, VEGF, BCL-2, P53, dan sebagainya.



 



Diakhir Talkshow, Dr.Qodir mengatakan untuk pencegahan kanker payudara dengan menjauhi faktor resiko yaitu tidak memakai kontrasepsi hormonal, perubahan gaya hidup (kurangi berat badan), Hindari stress dan menghindari makanan yang tidak sehat.



 



Referensi:



1.       Dall, G. dkk.2016. Mamary Stem Cells and Parity-Induced Breast Cancer Protection-New Insights.Journalof Steroid Biochemistry & Molecular Biology. 2015. Hal. 1-7, (http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0960076016300292, Diakses 4 Juli 2016)



2.       Hassiotou, F dan Geddes, D. 2013. Anatomy of the Human Mammary Gland: Current Status of Knowledge. Clinical Anatomy. 00/2012,(http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ca.22165/abstract userIsAuthenticated=false&deniedAccessCustomisedMessage=, Diakses 10 Juli 2016)



3.   Kementerian Kesehatan RI. 2015. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: “Situasi Penyakit Kanker”. Jakarta, hal. 4-5



4.        Kobayashi, S. dkk. 2012. Reproductive History and Breast Cancer Risk. Review Article. 19: 302-308, (http://link.springer.com/article/10.1007/s12282-012-0384-8, Diakses 30 Juni 2016)



5.        Kurnia, A. 2014.Mengembalikan Keremajaan Payudara pada Tumor Jinak dan Ganas.Divisi Bedah Onkologi/ HNBSCT FKUI/ RSCM, Jakarta, Indonesia, hal. 309-318



6.        Manuaba, I. B. 2010. Panduan Penatalaksanaan Kanker Solid PERABOI 2010. Sagung Seto, Jakarta, Indonesia, hal. 17-47



7.        Suyatno dan E. T. Pasaribu.2010. Bedah Onkologi Diagnosis dan Terapi.Sagung Seto, Jakarta, Indonesia, hal. 35-47



8.        Torre, L. A. dkk. 2015. Global Cancer Statistic, 2012. CA: A Cancer Journal for Clinicians. 00/2015, (http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.3322/caac.21262/full, Diakses 29 Juni 2016)



9.        Tung, N dkk. 2014. Frequency of Mutations in Individuals with Breast Cancer Referred for BRCA1 and BRCA2 Testing Using Next-Generation Sequencing with a 25-Gene Panel. Original Article.00/2014, (http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/cncr.29010/full, Diakses 30 Juni 2016)



 



10.     Wang, X. dkk.2015. Aromatase Overexpression in Dysfunctional Adipose Tissue Links Obesity to Postmenopausal Breast Cancer.Journal of Steroid Biochemistry & Molecular Biology.Hal. 1-33, (http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0960076015300182, Diakses 3 Juli 2016)



 



Salam



IP3Humas(Noya PKRS)



 


Share