Artikel

Jumat, Jam: 15:12:48 WIB By admin Dibaca 1

Profersor Rusdi Ismail menceritakan kisahnya hingga ia menjadi seorang Guru Besar. Dilahairkan di Tanjung Limau,Sumatera Barat. Ia adalah anak seorang kyai pengasuh sebuah pondok pesantren. Lingkuangan pesantren yang lekat denganya dari kecil ternyata malah membawanya menjadi seorang dokter. Ayahnya memasukan ia di sekolah umum, dinilai sebagai anak yang cerdas, Rusdi kecil langsung masuk kelas akselerasi. Tamat sekolah menengah atas ia berteolak ke Jakarta. Mengikuti tes masuk Universitas Indonesia dengan memilih jurusan Kedokteran dan ekonomi, ia berhasil diterima di kedua jurusan. Bayangan menjadi seorang dokter adalah sebuah kebanggaan, hingga ia tak lagi berfikir panjang untuk memilih fakultas kedokteran. "Padahal kalau difikir lagi, jadi ekonom lebih kaya," ujar Profesor Rusdi sambil tertawaSetalah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ia kemudian menjadi staf  pengajar di almamatenya itu. Hingga pada tahun 1968 sebelum penentuan pendapat rakyat Irian Barat atau yang disebut dengan PEPERA, pemerintah mengirimkan 4 dokter spesialis, salah satunya adalah spesialis anak. Kebetulan saat itu Profesor Rusdi adalah seorang dokter spesialis anak.



 



Kondisi Irian Barat yang saat itu masih konflik membuat para dokter enggan untuk pergi ke Irian Barat.Profesor Rusdi mengaku setengah dipaksa oleh atasanya di Universitas Indonesia, walaupun ia juga tidak keberatan dengan hal itu. Hingga akhirnya pada juni 1969 ia berangkat ke Irian. Ia mengaku senang selama di sana, Meskipun tidak membuka praktek dan tidak punya penghasilan lebih karena saat itu semua pelayanan kesehatan gratis. Hal ini juga sebagai upaya dalam memenagkan PEPERA oleh pemerintah Indonesia. Beberapa waktu kemudian ia menjadi diektur rumah sakit Provinsi Irian Barat.



 



Sebelumnya ia bersama dengan 3 dokter spesialis lain yang sedang bertugas di Irian Barat ditawari oleh pemerintah Indonesia. "ingin menjadi direktur rumah sakit atau menjadi anggota DPR." Kata profesor yang memiliki 3 orang anak ini. Kala itu dengan mantap ia memilih sebagai direktur rumah sakit karena ia mengaku sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik. "Dengan begini kan saya punya riwayat hidup sebagai direktur Rumah Sakit Provinsi."kata Profesor Rusdi dengan nada bercanda. Selang 3 tahun kemudian ia pindah ke RSMH Palembang. Sebagai relawan PEPERA ia mendapat kebebasan untuk memilih dimana ia akan ditempatkan selanjutnya. Ia memiliki pilihan untuk kembali mengajar di Universitas Indonesia. Mempertimbangkan tempat tinggal ia meminta kepada atasanya. "Saya mau ditempatkan dimana saja asal ada rumah yang bisa saya tinggali." Karena pada saat itu profesor rusdi belum memiliki rumah. Ia kemudian diberi tawaran berbagai pilihan tempat namun kemudian ia memilih RSMH Palembang karena merupakan rumah sakit pendidikan fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Dengan begitu minatnya sebagai pengajar masih dapat tersalurkan karena di rumah sakit pendidikan seorang dokter juga sekaligus sebagai seorang pengajar.



 



 



Palembang juga tergolong dekat dengan tempat asalnya, sehingga ia sudah mengenal kulturnya dengan sangat baik. Tahun 1972 saat ia datang di Palembang, statusnya masih menjadi pegawai departemen kesehatan, meski sebagai pegawai departeman kesehatan ia masih mengajar karena status RSMH Palembang sebagai Rumah sakit pendidikan. Baru setelah 10 tahun di RSMH Pelembang ia kemudian menjadi pegawai dinas pendidikan. Setelah itu ia juga sempat menjadi Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Hingga ia mendapatkan gelar Pofesor dan dikukuhkan menjadi Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dan pensiun pada tahun 2009 lalu. Minatnya menjadi seorang sebagai pengajar diwarisi oleh sang ayah. Sejak kecil



 



Profesor Rusdi tidak pernah secara formal menjadi seorang santri namun sang ayah selalu mengajarkan berbagai hal layaknya sorang santri. Profesor Rusdi bercerita suatu ketika ia bertengkar dengan temanya hingga temanya gontai berlumur darah karena dilempar batu olehnya. Mengetahui hal itu sang ayah lalu memberinya pelajaran, sambil dipukuli dengan ikat pinggang sang ayah menasehatinya dengan hadis. Hal itulah yang paling teringat dalam benak Profesor Rusdi. Saat ditanya pengalamanya selama menjadi dokter di RSMH, ia menceritakan kisahnya saat menangani pasien anak yang ia beri salah obat. Efek kesalahan obat kemudian membuat anak seketika menjadi lemas, orang tua sang anak lalu panik saat itu juga. Profesor Rusdi sempat diancam akan ditusuk oleh orang tua pasien. "Saya sudah hafal karakter orang Palembang, saat itu saya bisa tangai." Ia mencoba menenangkan orang tua pasien. "Mari pak saya antar ke rumah sakit, supaya bapak tidak ragu-ragu nanti akan langsung ditangani dokter spesialis yang lain." kata Professor Rusdi saat berbicara dengan orang tua pasien yang penuh amarah seketika tenang. Baginya pengalaman puluhan tahun menjadi dokter bukan tanpa resiko ia ingat betul saat ada pasien yang meninggal akibat salah penanganan darinya."waktu itu setiap hari ada 30 pasien yang harus saya tangani. Kalau ada salah penanganan akibat saya itu merupakan resiko," begitu Profesor Rusdi beralasan.



 




Suhaimi Humas (edition 7 RSMH magazine )


Profersor Rusdi Ismail menceritakan kisahnya hingga ia menjadi seorang Guru Besar. Dilahairkan di Tanjung Limau,Sumatera Barat. Ia adalah anak seorang kyai pengasuh sebuah pondok pesantren. Lingkuangan pesantren yang lekat denganya dari kecil ternyata malah membawanya menjadi seorang dokter. Ayahnya memasukan ia di sekolah umum, dinilai sebagai anak yang cerdas, Rusdi kecil langsung masuk kelas akselerasi. Tamat sekolah menengah atas ia berteolak ke Jakarta. Mengikuti tes masuk Universitas Indonesia dengan memilih jurusan Kedokteran dan ekonomi, ia berhasil diterima di kedua jurusan. Bayangan menjadi seorang dokter adalah sebuah kebanggaan, hingga ia tak lagi berfikir panjang untuk memilih fakultas kedokteran. "Padahal kalau difikir lagi, jadi ekonom lebih kaya," ujar Profesor Rusdi sambil tertawaSetalah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ia kemudian menjadi staf  pengajar di almamatenya itu. Hingga pada tahun 1968 sebelum penentuan pendapat rakyat Irian Barat atau yang disebut dengan PEPERA, pemerintah mengirimkan 4 dokter spesialis, salah satunya adalah spesialis anak. Kebetulan saat itu Profesor Rusdi adalah seorang dokter spesialis anak.



 



Kondisi Irian Barat yang saat itu masih konflik membuat para dokter enggan untuk pergi ke Irian Barat.Profesor Rusdi mengaku setengah dipaksa oleh atasanya di Universitas Indonesia, walaupun ia juga tidak keberatan dengan hal itu. Hingga akhirnya pada juni 1969 ia berangkat ke Irian. Ia mengaku senang selama di sana, Meskipun tidak membuka praktek dan tidak punya penghasilan lebih karena saat itu semua pelayanan kesehatan gratis. Hal ini juga sebagai upaya dalam memenagkan PEPERA oleh pemerintah Indonesia. Beberapa waktu kemudian ia menjadi diektur rumah sakit Provinsi Irian Barat.



 



Sebelumnya ia bersama dengan 3 dokter spesialis lain yang sedang bertugas di Irian Barat ditawari oleh pemerintah Indonesia. "ingin menjadi direktur rumah sakit atau menjadi anggota DPR." Kata profesor yang memiliki 3 orang anak ini. Kala itu dengan mantap ia memilih sebagai direktur rumah sakit karena ia mengaku sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik. "Dengan begini kan saya punya riwayat hidup sebagai direktur Rumah Sakit Provinsi."kata Profesor Rusdi dengan nada bercanda. Selang 3 tahun kemudian ia pindah ke RSMH Palembang. Sebagai relawan PEPERA ia mendapat kebebasan untuk memilih dimana ia akan ditempatkan selanjutnya. Ia memiliki pilihan untuk kembali mengajar di Universitas Indonesia. Mempertimbangkan tempat tinggal ia meminta kepada atasanya. "Saya mau ditempatkan dimana saja asal ada rumah yang bisa saya tinggali." Karena pada saat itu profesor rusdi belum memiliki rumah. Ia kemudian diberi tawaran berbagai pilihan tempat namun kemudian ia memilih RSMH Palembang karena merupakan rumah sakit pendidikan fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Dengan begitu minatnya sebagai pengajar masih dapat tersalurkan karena di rumah sakit pendidikan seorang dokter juga sekaligus sebagai seorang pengajar.



 



 



Palembang juga tergolong dekat dengan tempat asalnya, sehingga ia sudah mengenal kulturnya dengan sangat baik. Tahun 1972 saat ia datang di Palembang, statusnya masih menjadi pegawai departemen kesehatan, meski sebagai pegawai departeman kesehatan ia masih mengajar karena status RSMH Palembang sebagai Rumah sakit pendidikan. Baru setelah 10 tahun di RSMH Pelembang ia kemudian menjadi pegawai dinas pendidikan. Setelah itu ia juga sempat menjadi Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Hingga ia mendapatkan gelar Pofesor dan dikukuhkan menjadi Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya dan pensiun pada tahun 2009 lalu. Minatnya menjadi seorang sebagai pengajar diwarisi oleh sang ayah. Sejak kecil



 



Profesor Rusdi tidak pernah secara formal menjadi seorang santri namun sang ayah selalu mengajarkan berbagai hal layaknya sorang santri. Profesor Rusdi bercerita suatu ketika ia bertengkar dengan temanya hingga temanya gontai berlumur darah karena dilempar batu olehnya. Mengetahui hal itu sang ayah lalu memberinya pelajaran, sambil dipukuli dengan ikat pinggang sang ayah menasehatinya dengan hadis. Hal itulah yang paling teringat dalam benak Profesor Rusdi. Saat ditanya pengalamanya selama menjadi dokter di RSMH, ia menceritakan kisahnya saat menangani pasien anak yang ia beri salah obat. Efek kesalahan obat kemudian membuat anak seketika menjadi lemas, orang tua sang anak lalu panik saat itu juga. Profesor Rusdi sempat diancam akan ditusuk oleh orang tua pasien. "Saya sudah hafal karakter orang Palembang, saat itu saya bisa tangai." Ia mencoba menenangkan orang tua pasien. "Mari pak saya antar ke rumah sakit, supaya bapak tidak ragu-ragu nanti akan langsung ditangani dokter spesialis yang lain." kata Professor Rusdi saat berbicara dengan orang tua pasien yang penuh amarah seketika tenang. Baginya pengalaman puluhan tahun menjadi dokter bukan tanpa resiko ia ingat betul saat ada pasien yang meninggal akibat salah penanganan darinya."waktu itu setiap hari ada 30 pasien yang harus saya tangani. Kalau ada salah penanganan akibat saya itu merupakan resiko," begitu Profesor Rusdi beralasan.



 




Suhaimi Humas (edition 7 RSMH magazine )


 


Share