Artikel

Senin, Jam: 10:19:06 WIB By admin Dibaca 1

RSUP Dr. Mohammad Hoesin, mulai isi artikel disini..



Obesitas, apa bahayanya?



oleh  dr.Julius Anzar (Spesialis Anak RSMH)



 



Mengapa orang diganggu dengan keadaan obesitas? Apakah obesitas berbahaya? Kalau berbahaya, mengapa ada orang dengan obesitas, tenang-tenang saja? Bisakah obesitas dicegah? Tentu saja bisa. Namun sebelumnya kita harus tahu, apa itu obesitas, kapan seorang anak dikatakan obesitas. Lalu langkah-langkah apa yang dilakukan untuk mencegah obesitas.



Sekitar 2 tahun yang lalu, kita dikejutkan dengan satu kejadian obesitas yang sangat berat yang terjadi di Jawa Barat. Lalu seminggu kemudian, ada kejadian yang sama di kota kita. Sebenarnya berapa banyakkah anak menderita obesitas di negara kita ini? Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 didapatkan bahwa angka kejadian obesitas pada anak balita adalah 11,9% serta anak berusia 5-12 tahun, 13-15 tahun, dan 16-18 tahun berturut-turut 8,8%, 2,5%, dan 1,6%. Angka kejadian obesitas pada anak usia sekolah di Palembang sebesar 13,2% (Menurut Ilham, 2010). Jadi di Palembang,tahun 2010, di antara 10 anak usia sekolah, ada 1 sampai 2 anak yang menderita obesitas. Angka kejadian ini semakin hari semakin meningkat sejalan dengan modernisasi kota dimana akses untuk mendapatkan makanan yang berkalori tinggi sangat mudah ,sebaliknya akses untuk bermain di luar rumah sulit didapatkan.



Apakah obesitas itu? Obesitas adalah penumpukkan jaringan lemak yang berlebihan di dalam tubuh. Ini dapat terjadi disebabkan oleh asupan kalori dari makanan melebihi dari yang dibutuhkan. Mengapa hal itu bisa terjadi? Kebiasaan kita makan biasanya tidak memperhitungkan berapa banyak yang kita butuhkan, tetapi berdasarkan keinginan selera makan sehingga apabila makanannya enak maka makanan tersebut dimakan dengan porsi besar Anak yang obesitas akan terlihat memiliki tubuh yang lebar, wajah membulat, dagu rangkap, leher pendek lebar, dada seperti memiliki buah dada bagi laki-laki, perut berlipat,dan lengan dan kaki besar. Gambaran seperti itu, biasanya dimiliki oleh obesitas yang sudah berat. Obesitas yang ringan tidak begitu kelihatan atau belum ketahuan, sehingga untuk memastikan kapan mulai terjadi obesitas, biasanya dipakai suatu ukuran berat badan menurut tinggi badan. Badan kesehatan dunia (WHO) sudah mengeluarkan kurva indeks massa tubuh (IMT) untuk menentukan kapan seorang anak dikatakan mengalami obesitas dan juga berat badan lebih (Overweight) Untuk anak usia 0 sampai 2 tahun, kurva CDC2000, untuk anak usia 2 sampai 18 tahun. Dikatakan obesitas apabila IMT di atas 3 standar deviasi (SD) dan overweight apabila IMT di atas 2 SD (untuk anak usia 0 sampai 2 tahun). Untuk anak usia 2 sampai 18 tahun, dikatakan obesitas apabila IMT di atas persentil ke-95 pada kurva CDC2000 dan overweight apabila IMT di atas persentil ke-85 sampai 95 pada kurva CDC2000.



Upaya pencegahan obesitas dan gizi lebih terdiri dari 3 tahap yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier. Pencegahan primer dengan cara mempromosikan cara hidup sehat pada semua anak dan remaja beserta orang tuanya, terutama anak yang beresiko mengalami obesitas. Anak dikatakan  beresiko obesitas bila salah satu atau kedua orang tuanya menderita obesitas dan anak yang memiliki kelebihan berat badan semenjak masa kanak-kanak. Usaha pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan Puskesmas. Untuk bayi, peran dokter anak sangat dibutuhkan, berupa dorongan pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dan meneruskan pemberian ASI sampai usia 2 tahun. Pada usia 6 bulan sudah dimulai makan makanan padat, medorong orangtua untuk menawarkan makanan baru secara berulang serta menghindari minuman manis dan makanan selingan (french fries dan potato chip); tidak meletakkan televisi didalam kamar tidur anak;pengasuh selain orangtua harus menerapkan strategi yang dianjurkan. Pada anak berusia 12 bulan sampai dengan dua tahun, strategi pencegahan obesitas yang dianjurkan adalah: menghindari minuman manis, konsumsi jus dan susu yang berlebih. Konsumsi susu >480-720 mL/hari dapat menambah energi ekstra atau menggantikan nutrien lainnya; makan bersama dimeja makan dengan anggota keluarga lainnya sebanyak 3x/hari dan televisis dimatikan selama proses makan bersama; keluarga tidak membatasi jumlah makanan dan selingan yang dikonsumsi anak, tetapi memastikan bahwa semua makanan yang tersedia sehat serta cukup buah dan sayuran; selingan dapat diberikan sebanyak 2 kali, dan orangtua hanya menawarkan air putih bila anak haus diantara selingan makanan padat; anak harus mempunyai kesempatan bermain aktif, membatasi menonton televisi atau DVD, serta tidak meletakkan televisi didalam kamar tidur anak; orangtua dapat menjadi model untuk membantu anak belajar lebih selektif dan sehat terhadap makanan yang dikonsumsi. Orangtua berperan aktif dalam pendidikan media anak dengan menemani anak saat menonton program televisi dan mendiskusikan acara tersebut dengan anak; membuat jadwal penggunaan media, membatasi waktu menonton <1-2 jam/hari dan mengurangi pajanan media.



 



Pencegahan sekunder dilakukan dengan mendeteksi early adiposity rebound, anak mengalami peningkatan IMT pada tahun pertama kehidupan.Indeks massa tubuh menurun setelah 9-12 bulan dan mencapai nilai terendah pada usia 5-6 tahun, dan selanjutnya meningkat kembali pada masa remaja dan dewasa. Nilai IMT paling rendah adalah disebut sebagai adiposity rebound. Waktu terjadinya adiposity rebound merupakan periode kritis untuk perkembangan obesitas pada masa anak.



Pencegahan tersier dilakukan dengan mencegah komorbiditas yang dilakukan dengan menatalaksana obesitas pada anak dan remaja. Prinsip tata laksana obesitas pada anak berbeda dengan orang dewasa karena faktor tumbuh kembang pada anak harus dipertimbangkan. Tata laksana obesitas pada anak dan remaja dilakukan dengan pengaturan diet, peningkatan aktivitas fisis, mengubah pola hidup (modifikasi perilaku), dan terutama melibatkan keluarga dalam proses terapi. Sulitnya mengatasi obesitas menyebabkan kecenderungan untuk menggunakan jalan pintas, yaitu diet rendah lemak dan kalori, diet golongan darah atau diet lainnya serta berbagai macam obat. Penggunaan diet rendah kalori dan lemak dapat menghambat tumbuh kembang anak terutama di masa emas pertumbuhan otak, sedangkan diet golongan darah ataupun diet lainnya tidak terbukti bermanfaat untuk digunakan dalam tata laksana obesitas pada anak dan remaja. Penggunaan obat dipertimbangkan pada anak dan remaja obes dengan penyakit penyerta yang tidak memberikan respons terhadap terapi konvensional.



Kesimpulannya,obesitas merupakan masalah kesehatan dunia pada anak dan remaja yang semakin sering ditemukan di berbagai negara.termasuk Indonesia yang sebenarnya bisa dicegah  Prinsip pencegahan obesitas pada anak adalah menerapkan perilaku makan, aktivitas yang benar dan modifikasi perilaku dengan orangtua sebagai panutan; orangtua, anggota keluarga, teman, dan guru harus dilibatkan dalam tata laksana obesitas. Pencegahan terjadinya gizi lebih dan obesitas terdiri dari 3 tahap, pencegahan primer dengan menerapkan pola makan dan aktivitas yang benar sejak bayi,pencegahan sekunder dengan mendeteksi early adiposity rebound, dan pencegahan tersier dengan mencegah terjadinya komorbiditas.




  • Penulis adalah dokter spesialis anak konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik RS Dr. Moh. Husein Palembang


Share