RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

Selamat datang di RSUP Dr. Mohammad Hoesin!

Solusi Kesehatan untuk Anda dan Keluarga

Akses layanan medis dan informasi rumah sakit dengan cepat dan mudah.

Mengenali Batas Kemampuan Fisik demi Keselamatan Berkendara

๐Ÿ‘ค Hukmas ๐Ÿ“… 22/01/2026 ๐Ÿ‘๏ธ 73

Pembunuh Senyap di Balik Kemudi

Mengenali Batas Kemampuan Fisik demi Keselamatan Berkendara

 

Di balik kemudi, ancaman paling mematikan bukanlah se kadar mesin yang rusak atau ban yang pecah, melainkan musuh tak kasat mata yang menyerang langsung pusat kesadaran manusia: microsleep.  Fenomena ini belakangan menjadi sorotan tajam me nyusul rentetan kecelakaan lalu lintas di Kota Palembang yang melibatkan kendara an pribadi hingga angkutan umum.

 

 

Polanya serupa: kendaraan tiba-tiba kehilangan kendali, keluar jalur, atau menghantam objek di depan tanpa ada bekas pengereman. Pelakunya adalah "tidur sing kat" yang hanya berlangsung hitungan detik, namun mam pu mengubah hidup seseorang selamanya. Ketika Otak "Memutus Arus" Secara Mendadak Umumnya microsleep berlangsung sangat singkat, bahkan kurang dari 30 detik.

 

Pada momen ini, seseorang tiba tiba kehilangan kesadaran atau respons terhadap lingkungan sekitarnya. Dokter Spesialis Neurologi dari Rumah Sakit Umum Pusat  Dr. Mohammad Hoesin Palembang, dr. Mukhlisa, Sp.N, Subsp. ENK, menjelaskan bahwa secara medis, microsleep adalah sebuah anomali neurologis Kondisi ini terjadi ketika otak, yang sudah sangat kelelahan, memaksa tubuh untuk masuk ke fase tidur secara instan sebagai bentuk mekanisme per tahanan diri. "Umumnya microsleep ber langsung sangat singkat, bah kan kurang dari 30 detik.

 

Pada momen ini, seseorang tiba-tiba kehilangan kesadaran atau respons terhadap lingkungan sekitarnya. Yang menipu ada lah individu tersebut mungkin tampak masih terjaga dengan mata terbuka, padahal otak nya sudah berpindah ke fase Terlambat mengantisipasi pergerakan kendaraan lain. Kesalahan fatal sebagian besar pengemudi adalah merasa mampu "melawan" rasa kan tuk. Padahal, otak telah mem berikan serangkaian alarm se belum microsleep benar-benar mengambil alih.

 

Kondisi ini terjadi ketika otak, yang sudah sangat kelelahan, memaksa tubuh untuk masuk ke fase tidur secara instan se bagai bentuk mekanisme pertahanan diri. "Umumnya microsleep ber langsung sangat singkat, bah kan kurang dari 30 detik. Pada momen ini, seseorang tiba-tiba kehilangan kesadaran atau respons terhadap lingkungan sekitarnya. Yang menipu adalah individu tersebut mungkin tampak masih terjaga dengan mata terbuka, padahal otak nya sudah berpindah ke fase tidur tanpa ia sadari," ujar dr. Mukhlisa  .

 

 

Bahayanya bersifat ekspo nensial. Dalam kecepatan 80–100 km/jam, kehilangan kesadaran selama tiga detik saja sudah cukup untuk mem buat kendaraan melaju sejauh ratusan meter tanpa kendali. Di saat itulah, respons terha dap stimuli luar seperti lampu rem kendaraan di depan atau tikungan tajam—terhenti total. Otak tidak lagi mempro ses informasi, dan pengemudi hanya menjadi "penumpang" di kendaraannya sendiri yang sedang melaju maut.

 

Tanda-Tanda Senyap yang Sering Diabaikan Gangguan Penglihatan: Kedipan mata yang melambat, frekuensi kedipan berlebih, atau tatapan mata yang mulai kosong. Kehilangan Memori Jangka Pendek: Pengemudi tidak men gingat beberapa detik terakhir yang ia lalui atau tidak sadar telah melewati rambu lalu lintas tertentu

 

 

 Respons Motorik Melambat: Usaha Ekstra untuk Terjaga: Munculnya perasaan harus berjuang keras hanya untuk menjaga mata tetap terbuka. Menguap Berulang kali: Si nyal bahwa otak kekurangan pasokan oksigen akibat kelela han kronis. Kepala Terangguk: Gerakan spontan kepala yang terjatuh (head nodding). Penyimpangan Jalur: Ken daraan mulai melenceng ke bahu jalan tanpa disadari.

 

 

Kelompok Rentan dan Faktor Risiko Siapa saja bisa terkena micro sleep,

 

Siapa saja bisa terkena micro sleep, namun dr. Mukhlisa menyoroti beberapa kelompok yang memiliki risiko jauh lebih tinggi. Mereka yang kurang tidur secara konsisten (ku rang dari 7–9 jam) menempati urutan pertama. "Otak yang kurang istirahat akan secara otomatis mencari celah untuk 'terlelap sejenak' guna mengisi kembali tenaga," jelasnya.

 

Selain itu, pekerja shift ma lam yang bekerja melawan jam biologis, pengemudi jarak jauh dengan rute monoton, serta mereka yang berada di bawah pengaruh alkohol atau obat--obatan tertentu—seperti obat f lu atau alergi yang menekan sistem saraf pusat berada dalam zona merah ancaman ini

 

 

Hargai Kantuk: Tidur Bukan lah Pilihan, Tapi Kebutuhan

 

Menutup laporannya, dr. Mukhlisa menegaskan sebuah prinsip penting: tidur adalah kebutuhan neurologis yang tidak bisa ditawar dengan ka fein atau musik keras.

 

Banyak yang mencoba mengakali kantuk dengan menyetel musik kencang atau merokok. Itu hanya stimulan sementara yang tidak meny embuhkan kelelahan otak," tegasnya. Strategi terbaik adalah manajemen perjala nan yang matang. Istirahatlah

 

setiap 1–2 jam, manfaatkan power nap (tidur singkat 20–30 menit) jika rasa kantuk tak tertahankan, dan pastikan ku alitas tidur terpenuhi sebelum memegang setir. "Microsleep terjadi sekejap, namun dampaknya perma nen. Hargai setiap tanda kan tuk. Berhenti dan istirahatlah sebelum Anda merasa terlalu lelah, karena nyawa Anda dan orang lain di jalan adalah ta ruhannya," tutup dr. Mukhlisa.

 

 

Wawancara dengan dr. Mukhlisa, Sp.N, Subsp. ENK Spesialis Neurologi RSMH Palembang.,(Jan 2026)  www.rsmh.co.id @doc.suhaimihuma

×
Tanya Hoesin
Tanya Hoesin

Masukkan nama Anda untuk memulai chat...

IG @rsmhpalembang FB Facebook Web rsmh.co.id